Kamis, 01 November 2007
BATIK MILIK SIAPA...?
Batik, Sebenarnya Milik Siapa?SELEMBAR kain batik mampu bicara banyak. Ia mewakili sebuah perjalanan masa,membicarakan perpaduan berbagai budaya, juga perjalanan dari sebuahkekuasaan.Selembar kain batik juga bisa memunculkan busana trendi. Sayangnya, citrayang tertanam hingga saat ini masih berkonotasi negatif. Batik dianggapsebagai kain kuno yang hanya pantas digunakan orang-orang tua. Bahkan adayang mengonotasikan batik dengan daster atau dalam pandangan lebih baik,kemeja lelaki berumur.Menghapus citra yang sudah telanjur tertanam ternyata tidak mudah. Meskiberbagai pameran dan peragaan busana selalu bertujuan mengenalkan batik padakalangan muda, kenyataannya yang datang berkunjung atau menonton selalugenerasi senior dan ekspatriat. Anak muda yang hadir bisa dihitung denganjari.Kenyataan seperti itu kembali terlihat dalam Pameran Kain Batik KoleksiKartini Muljadi yang diselenggarakan Galeri Hadiprana, Senin pekan lalu.Hadir dalam acara yang akan berlangsung sebulan itu antara lain pengamat danpecinta batik Asmoro Damais, Baron, Edi Sedyawati, wartawan senior RosihanAnwar, Mien Uno, Dian M Soedardjo, serta tamu-tamu asing yang meminatikoleksi kain langka Indonesia.Generasi mudanya bisa dihitung dengan jari. Di antaranya dari kalangandesainer muda Didi Budihardjo dan Sebastian Gunawan. Ada juga beberapaperempuan muda dengan usia antara 20-30 tahunan. Mereka datang dan mencobamenjadikan batik sebagai sesuatu yang trendi.Salah satu di antaranya mengenakan kaus putih pendek dengan celana panjangpipa jins biru warna pudar yang tengah tren. Ia menyampirkan kain batikwarna cokelat kuno di bahunya. Wanita lainnya mengenakan sackdress ungu tua.Ia memitakan kain batik di atas tas Louis Vuitton. Begitu cantik dan padu.Dua perempuan ini membuktikan bahwa batik pun pantas digunakan anak mudadengan gaya trendi terkini. Sayang, jumlah yang mau peduli masih sangatsedikit.Bandingkan dengan pagelaran busana merek terkemuka seperti Mango. Antusiasgenerasi muda sungguh luar biasa. Mereka datang dan berani membeli mahalagar tidak dianggap ketinggalan zaman.Seorang bintang sinetron dan iklan memberi jawaban jujur. "Sebenarnyapromosi tentang batik sudah cukup. Masalahnya, kadang kalau kita pakai kainbatik suka dikatain kuno sama teman-teman. kesannya gak gaul gitu. Jadi gueenggak begitu minat dengan kain batik. Selain itu, gue pikir, kain batikmemiliki citra elegan. Sepertinya kurang cocok dibuat dengan gaya yang lebihfunky," tutur Dee Dee yang kini tengah sibuk syuting sinetron dan masihmenjadi bintang iklan produk Marina.Kurang kemasanTak kenal maka tak sayang. Begitu kata pengamat mode, pengajar dan pecintakain Sonny Muchlison saat mengomentari rendahnya minat generasi mudaterhadap kain tradisional. Dalam pandangannya, banyak hal memengaruhi sikaptersebut. Di antaranya kurang pengenalan sejak dini dan buruknya kemasanpameran serta peragaan busana yang diilhami kain tradisional.Dari waktu ke waktu jelasnya, pengenalan budaya di sekolah kian rendah.Penekanannya lebih pada menghafal. Kurikulum sekolah tidak memberi porsicukup untuk seni dan budaya. "Jadi, wajar saja bila anak sekarang merasaasing dengan kain tradisional Indonesia," tuturnya.Soal promosi kain batik, Sonny melihat sudah cukup gencar. Sayangnya, baruberdengung di kalangan tertentu alias belum menyentuh generasi muda.Persoalan lain menyangkut kurang menariknya kemasan yang disodorkan dalampameran maupun peragaan busana. Sering kali beberapa pameran di-displaysembarangan sehingga tidak menarik minat anak muda. Publikasi yang ditempuhjuga kurang mengena.Kondisi itu menurut Sonny semakin diperparah dengan kecenderungan mediacetak dan televisi yang hanya mengejar sensasional dan rating. Akibatnya,kisi-kisi pendidikan termasuk kesenian tradisional kurang diperkenalkankepada masyarakat. Kalaupun ada yang mengupas, biasanya sekadar formalitasatau justru ditampilkan secara berat dan kuno sehingga tidak menarik minatkaum muda.Sebagai seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta, dia juga prihatinsaat mengajar tekstil tradisional. Sebagian besar muridnya kurang begitutertarik apalagi mengenal. "Yang sekarang getol mempelajari keseniantradisional dan memburu kain-kain kuno justru orang asing. Siapasesungguhnya pemilik kebudayaan tradisional Indonesia ini?" katanyaprihatin.Keprihatinannya kian bertambah karena saat ini batik justru banyakdiaplikasi merek-merek luar negeri. Misalnya saja Project Shop Blood. Untukkawasan Asia, merek ini berani mengaplikasikan batik dengan nuansa urban danfunky. Pada 1997, Versace pernah menggunakan batik jamprang untukkoleksi-koleksinya. Antonio Berardiu dan Pierre Cardin juga menjabarkanbatik dalam gaya kardigan serta celana sleek yang unik. Terakhir Malaysiamalah berani mengklaim batik sebagai budaya khas mereka.Di Indonesia, lanjut Sonny, sebenarnya sudah ada beberapa desainer yangkhusus mengolah batik. Sayang kemasannya masih terlalu berat sehingga kurangmenyentuh hati generasi muda. "Meski demikian, upaya beberapa desainer ituperlu diapresiasi. Hasil karya mereka itu kini lebih diminati orang-orangasing. Obin misalnya, 99% pelanggannya berasal dari Eropa, Jepang, danAmerika."Begitulah gambaran kondisi batik di Indonesia. Perlu strategi dan kerjalebih keras lagi untuk memperkenalkan pada generasi muda. Jangan sampai kainkhas ini hilang ditelan zaman atau justru dipatenkan bangsa lain. (sumberbatikinfo.com)-------------------------------------------------------AYO DESAINER GRAFIS INDONESIA, Mari ambil bagian dalam mengembangkan BATIKINDONESIA! Tuangkan ide desain grafis modern dalam BATIK, agar batik dapatditerima generasi muda! Jangan mau kalah dengan orang-orang luar negri yangtelah mengeksploitasi keindahan batik.Ikuti workshop " Experience Gratik Design" -Workshop Batik untuk DesainerGrafis-6 Desember 2007, Galeri Hadiprana KemangJam 9.00-15.00investasi: Rp.250.000,- (termasuk makan siang, makalah, dan sertifikat) Tempat terbatas.Info lebih lanjut hubungi: oline (08129930680)atau (08151 9500 151)acara ini didukung oleh: Forum Desain Grafis Indonesia dan Majalah Concept
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar