Minggu, 18 November 2007
Malaysia Akhirnya Akui Rasa Sayange Milik Indonesia
Malaysia Akhirnya Akui Rasa Sayange Milik IndonesiaSelasa, 13 November 2007, 08:38:29 WIB Jakarta, myRMnews. PemerintahMalaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. MenteriKebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim telah bertemudengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. Dalam pertemuanitu, Malaysia mengakui lagu Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia. Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalamkunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan RaisYatim. "Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysiamengakui itu milik Indonesia," kata Dharma kemarin (12/11). Pernyataan eksplisit Rais Yatim, menurut Dharma, disampaikan saat acara Temu Jembatan Budaya di Kuala Lumpur kemarin. Dharma merupakan salah seorang anggota delegasi kebudayaan Indonesia. "Oleh Pak Menteri (Menbudpar Jero Wacik) disampaikan bahwa sebagai negara bertetangga, semua persoalan agar diselesaikan dalam konteks masing-masing. Adapun lagu Rasa Sayange sudah bisa dipahami sebagai warisan yang dipunyaiIndonesia," jelas Dharma. Lagu tersebut memang hidup di masyarakat secara luas hingga ke Malaysia. Karena itu, rakyat Malaysia juga mengenal dengan baik lagu tersebut. "Jadi, tidak ada masalah lagi," tegasnya. Jero Wacik saat dihubungi tadi malam membenarkan bahwa masalah lagu Rasa Sayange sudah tuntas. "Sebenarnya, tidak hanya masalah itu yang dibahas. Ada banyak hal," kata Jero. Sayang, pembicaraan tidak berlanjut karena Jero sedang mengikuti jamuan makan malam. Sebelumnya, kementerian kebudayaan Malaysia mengakui telah lalai menggunakan lagu Indonesia lainnya. Yakni, lagu Tiar Ramon karya musikus Minang, yang digunakan tarian delegasi Malaysia pada Asia Festival 2007 di Osaka. Indonesia tidak akan memperkarakan lagu dan kesenian yang dipakai Malaysia. Sebab, Indonesia dan Malaysia masih serumpun. Hanya, Indonesia meminta, jika Malaysia menggunakan kesenian Indonesia, harus diumumkan kepada publik bahwa itu berasal dari Indonesia. Di Malaysia, selain menghadiri Temu Jembatan Budaya, Jero Wacik membuka Indonesia Trend (Trade, Tourism, and Investment) Expo 2007 di Kuala Lumpur. Itu merupakan pameran produk-produk ekspor Indonesia ke Malaysia.
Kamis, 01 November 2007
BEASISWA SAMPOERNA UNTUK TIDAK MAMPU
Mohon disebarkan (semoga bermanfaat) Jika tidak berkeberatan forward di milis2 di mana anda bergabung. Kalau kenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi
Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770
telp 7990412 HP: 085691500258
Untuk selanjutnya akan disurvei. Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu
Best Regards,>
Ade Andria Outreach>
Sampoerna Foundation>
Sampoerna Strategic Square
Tower A, 27th Floor Jl. Jendral Sudirman Kav. 45 Jakarta 12930 INDONESIA
Phone: 62 21 577 2340 ext.7399 Fax: 62 21 577 2341 Mobile: 0816 948 948
Email: ade.andria@sampoernafoundation.org
Website: www.sampoernafoundation.org
Sari YulianaQuality Assurance Department
PT. Actavis Indonesia Jalan Raya Bogor km. 28
t +62 21 8710311 @ Syuliana@actavis.com
13710 Jakarta Indonesia f +62 21 8710044
w www.actavis.com
Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770
telp 7990412 HP: 085691500258
Untuk selanjutnya akan disurvei. Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu
Best Regards,>
Ade Andria Outreach>
Sampoerna Foundation>
Sampoerna Strategic Square
Tower A, 27th Floor Jl. Jendral Sudirman Kav. 45 Jakarta 12930 INDONESIA
Phone: 62 21 577 2340 ext.7399 Fax: 62 21 577 2341 Mobile: 0816 948 948
Email: ade.andria@sampoernafoundation.org
Website: www.sampoernafoundation.org
Sari YulianaQuality Assurance Department
PT. Actavis Indonesia Jalan Raya Bogor km. 28
t +62 21 8710311 @ Syuliana@actavis.com
13710 Jakarta Indonesia f +62 21 8710044
w www.actavis.com
How To Create Local Branding ?
Understanding Local Culture
to Create Impactfull Branding
Disampaikan Dalam Indonesian TradeXpo 2007PRJ Kemayoran JakartaKamis, 25 Oktober 2007
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah ide sederhana: bahwa sesungguhnya negeri seribu pulau ini punya kekayaan ide berbasis budaya yang tidak ada habisnya. Tapi tolong dirombak total pengertian budaya di kepala kita semua. Budaya itu tidak sekedar tari-tarian, lagu daerah, jenis bahasa, makanan khas, busana daerah dan upacara adat suku-suku. Kalo hanya berhenti di sini, mungkin kita tak berbeda dengan apa yang telah dilakukan dengan cara lama: kekayaan budaya itu jadi biasa-biasa saja, kuno dan membosankan. Budaya Indonesia juga menyangkut seluruh aspek bagaimana bangsa ini menghadapi dan menghidupi dirinya dalam keseharian. Di TradeXpo hari ini, ada 960 stand: banyak sekali produk menarik, unik dan lucu-lucu bentuknya, hasil olahan kreativitas anak bangsa yang tidak sekedar textbook. Jangan mereduksi budaya Indonesia dengan sekedar tari-tarian daerah: itu sangat merugikan potensi luar biasa bangsa kita.
Mengambil Jarak
Terus, bagaimana caranya agar kita ngeh: dan mampu menangkap hal-hal unik tersebut sehingga menjadi suatu ide yang ‘layak jual.’ Maka marilah kita menjadi ‘orang asing.’ Orang asing melihat segala sesuatu di depan matanya sebagai hal-hal baru, menarik, menimbulkan ketertarikan. Mulailah mengubah pola hidup sehari-hari yang terlanjur dianggap biasa dan wajar. Memberikan muatan dan nilai-nilai baru, melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Yang bisa membuka katup-katup ide, menciptakan hal-hal baru yang menarik, yang berbeda. Karena di situlah sebenarnya ruang-ruang kreativitas baru bisa dibangun. Di situlah ide-ide besar yang bisa mempengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia punya kemungkinan terbesar untuk diciptakan.
Archimedes menemukan hukum tentang massa jenis di sebuah bak mandi, bukan di ruang kuliah atau laboratorium. Ia lari telanjang sambil berteriak,”Eureka!” Orang-orang yang melihatnya menganggap dia gila, tapi saat ini sekolah-sekolah ‘untuk orang waras’ di seluruh dunia dengan sadar menggunakan rumus penemuannya. Van Gogh potong kuping, setelah dia meninggal karyanya malah jadi masterpiece dan dibeli orang dengan harga paling mahal. Isaac Newton mendapatkan teori gravitasinya ‘hanya’ dengan mengamati jatuhnya buah apel. IDEO, sebuah perusahaan desain paling inovatif di Amerika mendapatkan ide-ide besarnya bukan dari lapangan bermainnya sendiri melainkan dari tempat pembuangan sampah, toko mainan, supermarket dan taman kanak-kanak.
Ide bisa berasal dari mana saja. Asal kita jeli mengamatinya, dan tidak sekedar mengambil ide itu mentah belaka. Mengutip Steve Jobs, kita harus membentuk kembali ide-ide dasar dari realitas alam itu dengan pemikiran dan kreativitas kita. Dengan itu kita menandai sejarah, tidak sekedar larut di dalamnya.
Dengan mengambil jarak dari rutinitas sehari-hari, kita bisa mencerna substansi dari hiruk pikuk kegiatan yang kita lakukan tanpa henti. Makan, minum, tidur, berangkat ke kantor, ngejar bis kota, terjebak macet dan seterusnya. Dengan menarik nafas panjang dan merenungkannya, kita bisa membedakan antara pekerjaan yang penting dan pekerjaan yang mendesak. Yang substansial dan aksesoris. Dengan jeda dan istirahat, otak kita akan terasah lagi kemampuannya dan tidak cepat aus karena terforsir setiap saat.
Melihat Potensi, Tidak Sekedar Realitas
Tuhan menganugerahi kita sepasang mata yang indah, untuk mengeja obyek-obyek dalam jangkauan pandangan kita. Jika kita bisa memaksimalkan fungsi ini, kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dan keindahan. Mata adalah elemen terpenting estetika, dengannya kita bisa menikmati seribu warna yang menghias alam semesta.
Tapi ada baiknya jika kita tidak menggantungkan sepenuhnya penilaian atas pandangan mata yang bersifat fisik ini. Karena pandangan visual ini bukan satu-satunya. Lagipula kemampuannyapun – karena sifatnya yang physical – menjadi terbatas. Mata hanya mampu melihat realitas: menyerap kenyataan seperti adanya.
Ada sebuah pandangan yang bisa menjangkau lebih jauh, yang bahkan melampaui ruang dan waktu. Para psikolog menyebutnya pandangan pikiran. Pandangan ini bersifat spiritual dan hanya melihat potensi (Dr. David J. Schwartz, The Magic of Thinking Success) Pandangan ini adalah modal terbesar bagi seseorang untuk memiliki sebuah visi yang jelas di masa depan. Adalah kemampuan melihat tidak saja dalam ruang yang berbeda, tapi juga waktunya. Seorang visioner mampu melihat 5 atau 10 tahun ke depan, membayangkan kondisi ideal sampai detailnya dan membuat rencana-rencana sistematis untuk mewujudkannya. Seorang visioner adalah kreator yang antisipatif, bukan seorang follower yang reaktif.
Sampah yang menggunung, antrian di bank, penumpang yang penuh sesak di bis kota adalah teks bebas yang bisa diapresiasi secara berbeda atau bahkan bertolak belakang oleh seorang normal dengan pandangan visual belaka dan seorang visioner dengan pandangan pikiran.
Yang pertama akan melihatnya biasa saja. Tidak ada sedikitpun yang membekas di pikirannya. Yang kedua akan melihatnya sebagai peluang dan kesempatan. Dalam pandangan seorang visioner, setumpuk sampah bisa menjadi berton-ton pupuk atau karya seni instalasi. Antrian di bank bisa dimanfaatkan untuk membaca buku atau mengamati perilaku orang. Penumpang sesak bisa jadi ide iklan minuman ringan atau minyak wangi.
Peluang-peluang emas seperti ini tidak terlihat oleh mata biasa, lalu lenyap dan berganti pandangan lain. Seperti Jaelangkung: datangnya tanpa peringatan, perginyapun tanpa kesan.
Apa yang Salah Dengan Ide Kelas Lokal?
Hidup kita telah dikendalikan oleh gengsi, dalam segala bentuknya. Termasuk persetujuan implisit kita tentang kasta-kasta: ini perusahaan Jakarta, itu perusahaan daerah. Perusahaan multinasional, perusahaan nasional, perusahaan lokal. Mentalitas bangsa terjajah telah membuat kita sulit bersikap egaliter, pilihannya tinggal sombong (buat yang merasa kelasnya lebih tinggi) atau minder (buat yang tidak percaya diri).
Celakanya, dalam hal pengolahan ide kreatifpun kasusnya gak jauh beda. Dikit-dikit menjurusnya ke stereotip: kalo ide yang global itu begini, yang lokal itu begitu. Contoh jamak yang disebut elemen lokal Jogja itu biasanya batik, tugu, keraton, blangkon, bakpia dan semacamnya yang sudah mulai terasa membosankan. Tapi apakah ada satu hukum yang mewajibkan bahwa kalo bicara Jogja maka mesti menggunakan elemen-elemen itu? Semacam kita harus ikut Penataran P4 baru bisa dianggap telah mengamalkan Pancasila?
Tidak toh? Kita sendiri yang takut dianggap melanggar adat jika tidak seperti kebanyakan orang. Kita terbiasa bersikap inferior, sadar atau tidak sadar.
Padahal Thailand, Cina, India sukses mengekspor nilai lokalnya menjadi aset kreatif yang laku terjual di dunia internasional. Lihat film-film Bollywood yang di tanah kelahirannya selalu mengalahkan penonton film Hollywood. Ide humor-humor sarkastik Thailand menyapu habis award di Adfest. Cina menikmati penghargaan tertinggi lewat Crouching Tiger Hidden Dragon. Indonesia? Puas menjadi penonton keberhasilan negara-negara tetangga sambil bersyukur masih dapat ranking atas untuk kategori korupsi.
Tapi ya memang tidak semua aspek lokal bisa menarik untuk diangkat menjadi sebuah point of interest dan mampu menciptakan stopping power yang kuat. Jika kita tidak hati-hati dan hanya mengekor tradisi, maka output kreatifpun akan menjadi usang, obsolete, tidak dilirik orang. Misalnya elemen-elemen konvensional khas Jogja tadi. Lupakan semua itu dan tawarkan hal-hal baru. Paling tidak elemen lama itu di-treatment khusus: batiknya mau diapain biar unik, tugunya diambil dari angle sebelah mana biar beda, keratonnya diambil sudut sebelah mana yang tak pernah dilihat orang, blangkonnya di-trace agar lebih ngepop, dll. Peran kreativitas sangat penting untuk ‘menyulap’ hal-hal biasa menjadi berbeda dan unik.
Memahami kultur yang akan kita angkat menjadi sebuah tema dalam kampanye promosi adalah hal mutlak yang harus kita kuasai. Tanpa pemahaman yang mendalam, maka proses untuk meng-akulturasikannya dengan aspek global tidak saja bisa mengakibatkan salah persepsi tapi bahkan bisa menjadi bumerang akibat penerimaan negatif target audiens.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membawa muatan lokal yang begitu unik, menarik dan bisa diterima oleh audiens yang bahkan tidak mengerti secara jelas kultur budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya desain grafis.
Karena tidak semua kultur lokal bisa diangkat menjadi bahasa global, ada kemungkinan kultur di suatu daerah bisa bertentangan dengan daerah lain. Contoh kecil: ‘kates’ dalam bahasa Jawa berarti ‘pepaya’, tapi dalam bahasa Sunda berarti ‘pisang’.
Bahkan, yang dianggap baik di suatu komunitas, bisa dianggap sangat buruk di komunitas yang lain. Ketelanjangan di Papua dianggap biasa, tapi jangan coba diterapkan di Aceh, misalnya. Pemahaman atas dua hal ini akan banyak membantu tercapainya proses transformasi pesan yang benar-benar pas pada audiensnya, sehingga tercipta ‘iklan plus’, yang pengaruhnya melebar melewati batas-batas lokalitasnya sendiri.
Bercermin pada apa yang kami lakukan Petakumpet untuk meng-create aspek local contents dalam menghasilkan ide: pemahaman mendalam terhadap insight audiens didukung ketelitian mengamati hal-hal kecil yang unik dan menyentuh dalam keseharian adalah modal terciptanya ide-ide berbasis budaya lokal yang membumi.
Mari Main Hujan-Hujanan
Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk membongkar mentalitas kita telah ditumbuhi lumut itu? Satu hal yang pasti: kesuksesan yang kini dinikmati oleh rekan-rekan kreatif kita dari negara-negara tetangga itu bukan bakat bawaan lahir, tidak berhubungan dengan faktor keturunan. Pandangan hidup penuh percaya diri itu adalah keahlian yang bisa diasah dan dilatih. Dengan keberanian, ketekunan dan konsistensi.
Tidak ada kesuksesan instant. Padi tidak akan menguning sebelum waktunya dan ayam tidak mungkin bertelur sebelum cukup umurnya. Pandangan pikiran juga masuk dalam hukum alam seperti itu: waktu memegang peranan sangat penting. Setiap detik dan menitnya.
Keberuntungan akan lebih sering datang pada orang yang terlatih dan telah menyiapkan dirinya. Tidak setiap orang pernah melihat bintang jatuh, tapi saya yakin jika ada yang bersedia menunggunya dengan teratur, bersedia mempelajari pola bintang jatuh dan mempunyai sebuah teleskop: dia akan menyaksikan lebih banyak bintang jatuh. Jika melihat bintang jatuh dianggap perlambang sebuah keberuntungan, maka melihatnya berkali-kali akan menjadikannya mukjizat.
Mulailah dengan menabrak kebiasaan-kebiasaan lama yang telah dianggap kebenaran yang mutlak dengan sadar dan terencana. Siapkan pemberontakan kecil-kecilan. Dan pertahankan orisinalitas keyakinan itu. Dengan konsisten. Karena pasti akan banyak orang yang dengan senang hati mengatakan padamu betapa bodohnya kamu dengan pilihan tindakan itu. Akan banyak orang yang memprediksikan kamu akan gagal, meskipun mereka sendiri belum pernah mencoba sedikitpun. Resikonya memang tidak ringan, karena imbalannya juga tidak kecil.
Saya punya koleksi beberapa ide nabrak pagar. Misalnya, pernah memikirkan untuk menikah di kuburan? Pernah merenungkan sebuah ide di atas pohon kelapa? Menulis sambil menutup mata? Berjalan normal sambil tersenyum dalam hujan lebat melewati orang yang sedang berlarian atau berteduh? Makan nasi dengan lauk buah-buahan? Minum kopi sambil – sorry – buang air besar?
Saya hanya ingin membuka ruang seluas-luasnya. Lupakan dulu tentang sopan santun dan etika. Atau aturan baku lainnya. Tabrak saja dulu. Bebaskan semua belenggu yang telah mencengkeram otak kita sejak kecil. Rasakan imajinasi yang melayang bebas seperti burung terbang mengukur tingginya langit. Rasakan segarnya udara yang memenuhi ruang tak terbatas. Rasakan kaki-kaki yang berlari melesat ke masa depan dengan gerakan yang luar biasa ringannya.
Apakah kebebasan yang Anda rasakan dalam pikiran itu membuat Anda menjadi senang, bahagia, inspired atau justru malah takut?
Masih Ragu? Good!
Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Ini adalah sebuah gejala yang wajar, sewajar adik bayi yang demam ketika mendapat suntikan vaksin. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah. Keraguan akan mematangkan pertimbangan kita sebagai salah satu mekanisme internal control. Setelah itu, tutuplah semua pintu yang bisa membuatmu menoleh ke belakang. Bakar semua perahu penyelamatmu seperti Jabal Tariq. Sehingga satu-satunya jalan yang tersisa buatmu hanyalah ke depan. Dan teruslah melangkah.
Se-simple itu. Meskipun tentu saja tidak semudah ketika menuliskannya. Landskap masa depan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Mereka yang terus maju ke depan karena keyakinan yang kuat, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa mencemoohkan. Orang-orang langka seperti ini akan menjadi gelombang yang tidak terhentikan. Yang tidak saja akan menghempaskan milyaran buih ke pantai, tapi juga meruntuhkan karang-karang yang terjal.
Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri. Keberuntungan akan datang bahkan tanpa pernah disangka-sangka. Sejarah banyak mencatat kebenaran kata-kata sederhana ini, jika kita mau belajar darinya.
Dan kembali ke topik awal yang judulnya sok barat itu, saya tidak menawarkan banyak hal lewat tulisan ini. Saya percaya bahwa ide-ide lokal sangat punya potensi kekuatan, justru karena kelokalannya. Ide kreatif yang berangkat dari lokalitas itu jumlahnya tak terbatas, dan jika diolah maksimal akan menjelma jadi masterpiece berkelas internasional.
Jakarta, 25 Oktober 2007
M. Arief Budiman, S.Sn.
Managing Director PT. Petakumpet Yogyakarta
Sekretaris PPPI Pengda DIY
Email: arief_009@yahoo.com, contact@petakumpetworld.com
www.mybothsides.blogspot.com, www.petakumpetworld.com
to Create Impactfull Branding
Disampaikan Dalam Indonesian TradeXpo 2007PRJ Kemayoran JakartaKamis, 25 Oktober 2007
Saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah ide sederhana: bahwa sesungguhnya negeri seribu pulau ini punya kekayaan ide berbasis budaya yang tidak ada habisnya. Tapi tolong dirombak total pengertian budaya di kepala kita semua. Budaya itu tidak sekedar tari-tarian, lagu daerah, jenis bahasa, makanan khas, busana daerah dan upacara adat suku-suku. Kalo hanya berhenti di sini, mungkin kita tak berbeda dengan apa yang telah dilakukan dengan cara lama: kekayaan budaya itu jadi biasa-biasa saja, kuno dan membosankan. Budaya Indonesia juga menyangkut seluruh aspek bagaimana bangsa ini menghadapi dan menghidupi dirinya dalam keseharian. Di TradeXpo hari ini, ada 960 stand: banyak sekali produk menarik, unik dan lucu-lucu bentuknya, hasil olahan kreativitas anak bangsa yang tidak sekedar textbook. Jangan mereduksi budaya Indonesia dengan sekedar tari-tarian daerah: itu sangat merugikan potensi luar biasa bangsa kita.
Mengambil Jarak
Terus, bagaimana caranya agar kita ngeh: dan mampu menangkap hal-hal unik tersebut sehingga menjadi suatu ide yang ‘layak jual.’ Maka marilah kita menjadi ‘orang asing.’ Orang asing melihat segala sesuatu di depan matanya sebagai hal-hal baru, menarik, menimbulkan ketertarikan. Mulailah mengubah pola hidup sehari-hari yang terlanjur dianggap biasa dan wajar. Memberikan muatan dan nilai-nilai baru, melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Yang bisa membuka katup-katup ide, menciptakan hal-hal baru yang menarik, yang berbeda. Karena di situlah sebenarnya ruang-ruang kreativitas baru bisa dibangun. Di situlah ide-ide besar yang bisa mempengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia punya kemungkinan terbesar untuk diciptakan.
Archimedes menemukan hukum tentang massa jenis di sebuah bak mandi, bukan di ruang kuliah atau laboratorium. Ia lari telanjang sambil berteriak,”Eureka!” Orang-orang yang melihatnya menganggap dia gila, tapi saat ini sekolah-sekolah ‘untuk orang waras’ di seluruh dunia dengan sadar menggunakan rumus penemuannya. Van Gogh potong kuping, setelah dia meninggal karyanya malah jadi masterpiece dan dibeli orang dengan harga paling mahal. Isaac Newton mendapatkan teori gravitasinya ‘hanya’ dengan mengamati jatuhnya buah apel. IDEO, sebuah perusahaan desain paling inovatif di Amerika mendapatkan ide-ide besarnya bukan dari lapangan bermainnya sendiri melainkan dari tempat pembuangan sampah, toko mainan, supermarket dan taman kanak-kanak.
Ide bisa berasal dari mana saja. Asal kita jeli mengamatinya, dan tidak sekedar mengambil ide itu mentah belaka. Mengutip Steve Jobs, kita harus membentuk kembali ide-ide dasar dari realitas alam itu dengan pemikiran dan kreativitas kita. Dengan itu kita menandai sejarah, tidak sekedar larut di dalamnya.
Dengan mengambil jarak dari rutinitas sehari-hari, kita bisa mencerna substansi dari hiruk pikuk kegiatan yang kita lakukan tanpa henti. Makan, minum, tidur, berangkat ke kantor, ngejar bis kota, terjebak macet dan seterusnya. Dengan menarik nafas panjang dan merenungkannya, kita bisa membedakan antara pekerjaan yang penting dan pekerjaan yang mendesak. Yang substansial dan aksesoris. Dengan jeda dan istirahat, otak kita akan terasah lagi kemampuannya dan tidak cepat aus karena terforsir setiap saat.
Melihat Potensi, Tidak Sekedar Realitas
Tuhan menganugerahi kita sepasang mata yang indah, untuk mengeja obyek-obyek dalam jangkauan pandangan kita. Jika kita bisa memaksimalkan fungsi ini, kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran dan keindahan. Mata adalah elemen terpenting estetika, dengannya kita bisa menikmati seribu warna yang menghias alam semesta.
Tapi ada baiknya jika kita tidak menggantungkan sepenuhnya penilaian atas pandangan mata yang bersifat fisik ini. Karena pandangan visual ini bukan satu-satunya. Lagipula kemampuannyapun – karena sifatnya yang physical – menjadi terbatas. Mata hanya mampu melihat realitas: menyerap kenyataan seperti adanya.
Ada sebuah pandangan yang bisa menjangkau lebih jauh, yang bahkan melampaui ruang dan waktu. Para psikolog menyebutnya pandangan pikiran. Pandangan ini bersifat spiritual dan hanya melihat potensi (Dr. David J. Schwartz, The Magic of Thinking Success) Pandangan ini adalah modal terbesar bagi seseorang untuk memiliki sebuah visi yang jelas di masa depan. Adalah kemampuan melihat tidak saja dalam ruang yang berbeda, tapi juga waktunya. Seorang visioner mampu melihat 5 atau 10 tahun ke depan, membayangkan kondisi ideal sampai detailnya dan membuat rencana-rencana sistematis untuk mewujudkannya. Seorang visioner adalah kreator yang antisipatif, bukan seorang follower yang reaktif.
Sampah yang menggunung, antrian di bank, penumpang yang penuh sesak di bis kota adalah teks bebas yang bisa diapresiasi secara berbeda atau bahkan bertolak belakang oleh seorang normal dengan pandangan visual belaka dan seorang visioner dengan pandangan pikiran.
Yang pertama akan melihatnya biasa saja. Tidak ada sedikitpun yang membekas di pikirannya. Yang kedua akan melihatnya sebagai peluang dan kesempatan. Dalam pandangan seorang visioner, setumpuk sampah bisa menjadi berton-ton pupuk atau karya seni instalasi. Antrian di bank bisa dimanfaatkan untuk membaca buku atau mengamati perilaku orang. Penumpang sesak bisa jadi ide iklan minuman ringan atau minyak wangi.
Peluang-peluang emas seperti ini tidak terlihat oleh mata biasa, lalu lenyap dan berganti pandangan lain. Seperti Jaelangkung: datangnya tanpa peringatan, perginyapun tanpa kesan.
Apa yang Salah Dengan Ide Kelas Lokal?
Hidup kita telah dikendalikan oleh gengsi, dalam segala bentuknya. Termasuk persetujuan implisit kita tentang kasta-kasta: ini perusahaan Jakarta, itu perusahaan daerah. Perusahaan multinasional, perusahaan nasional, perusahaan lokal. Mentalitas bangsa terjajah telah membuat kita sulit bersikap egaliter, pilihannya tinggal sombong (buat yang merasa kelasnya lebih tinggi) atau minder (buat yang tidak percaya diri).
Celakanya, dalam hal pengolahan ide kreatifpun kasusnya gak jauh beda. Dikit-dikit menjurusnya ke stereotip: kalo ide yang global itu begini, yang lokal itu begitu. Contoh jamak yang disebut elemen lokal Jogja itu biasanya batik, tugu, keraton, blangkon, bakpia dan semacamnya yang sudah mulai terasa membosankan. Tapi apakah ada satu hukum yang mewajibkan bahwa kalo bicara Jogja maka mesti menggunakan elemen-elemen itu? Semacam kita harus ikut Penataran P4 baru bisa dianggap telah mengamalkan Pancasila?
Tidak toh? Kita sendiri yang takut dianggap melanggar adat jika tidak seperti kebanyakan orang. Kita terbiasa bersikap inferior, sadar atau tidak sadar.
Padahal Thailand, Cina, India sukses mengekspor nilai lokalnya menjadi aset kreatif yang laku terjual di dunia internasional. Lihat film-film Bollywood yang di tanah kelahirannya selalu mengalahkan penonton film Hollywood. Ide humor-humor sarkastik Thailand menyapu habis award di Adfest. Cina menikmati penghargaan tertinggi lewat Crouching Tiger Hidden Dragon. Indonesia? Puas menjadi penonton keberhasilan negara-negara tetangga sambil bersyukur masih dapat ranking atas untuk kategori korupsi.
Tapi ya memang tidak semua aspek lokal bisa menarik untuk diangkat menjadi sebuah point of interest dan mampu menciptakan stopping power yang kuat. Jika kita tidak hati-hati dan hanya mengekor tradisi, maka output kreatifpun akan menjadi usang, obsolete, tidak dilirik orang. Misalnya elemen-elemen konvensional khas Jogja tadi. Lupakan semua itu dan tawarkan hal-hal baru. Paling tidak elemen lama itu di-treatment khusus: batiknya mau diapain biar unik, tugunya diambil dari angle sebelah mana biar beda, keratonnya diambil sudut sebelah mana yang tak pernah dilihat orang, blangkonnya di-trace agar lebih ngepop, dll. Peran kreativitas sangat penting untuk ‘menyulap’ hal-hal biasa menjadi berbeda dan unik.
Memahami kultur yang akan kita angkat menjadi sebuah tema dalam kampanye promosi adalah hal mutlak yang harus kita kuasai. Tanpa pemahaman yang mendalam, maka proses untuk meng-akulturasikannya dengan aspek global tidak saja bisa mengakibatkan salah persepsi tapi bahkan bisa menjadi bumerang akibat penerimaan negatif target audiens.
Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membawa muatan lokal yang begitu unik, menarik dan bisa diterima oleh audiens yang bahkan tidak mengerti secara jelas kultur budaya yang diangkatnya dalam sebuah karya desain grafis.
Karena tidak semua kultur lokal bisa diangkat menjadi bahasa global, ada kemungkinan kultur di suatu daerah bisa bertentangan dengan daerah lain. Contoh kecil: ‘kates’ dalam bahasa Jawa berarti ‘pepaya’, tapi dalam bahasa Sunda berarti ‘pisang’.
Bahkan, yang dianggap baik di suatu komunitas, bisa dianggap sangat buruk di komunitas yang lain. Ketelanjangan di Papua dianggap biasa, tapi jangan coba diterapkan di Aceh, misalnya. Pemahaman atas dua hal ini akan banyak membantu tercapainya proses transformasi pesan yang benar-benar pas pada audiensnya, sehingga tercipta ‘iklan plus’, yang pengaruhnya melebar melewati batas-batas lokalitasnya sendiri.
Bercermin pada apa yang kami lakukan Petakumpet untuk meng-create aspek local contents dalam menghasilkan ide: pemahaman mendalam terhadap insight audiens didukung ketelitian mengamati hal-hal kecil yang unik dan menyentuh dalam keseharian adalah modal terciptanya ide-ide berbasis budaya lokal yang membumi.
Mari Main Hujan-Hujanan
Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk membongkar mentalitas kita telah ditumbuhi lumut itu? Satu hal yang pasti: kesuksesan yang kini dinikmati oleh rekan-rekan kreatif kita dari negara-negara tetangga itu bukan bakat bawaan lahir, tidak berhubungan dengan faktor keturunan. Pandangan hidup penuh percaya diri itu adalah keahlian yang bisa diasah dan dilatih. Dengan keberanian, ketekunan dan konsistensi.
Tidak ada kesuksesan instant. Padi tidak akan menguning sebelum waktunya dan ayam tidak mungkin bertelur sebelum cukup umurnya. Pandangan pikiran juga masuk dalam hukum alam seperti itu: waktu memegang peranan sangat penting. Setiap detik dan menitnya.
Keberuntungan akan lebih sering datang pada orang yang terlatih dan telah menyiapkan dirinya. Tidak setiap orang pernah melihat bintang jatuh, tapi saya yakin jika ada yang bersedia menunggunya dengan teratur, bersedia mempelajari pola bintang jatuh dan mempunyai sebuah teleskop: dia akan menyaksikan lebih banyak bintang jatuh. Jika melihat bintang jatuh dianggap perlambang sebuah keberuntungan, maka melihatnya berkali-kali akan menjadikannya mukjizat.
Mulailah dengan menabrak kebiasaan-kebiasaan lama yang telah dianggap kebenaran yang mutlak dengan sadar dan terencana. Siapkan pemberontakan kecil-kecilan. Dan pertahankan orisinalitas keyakinan itu. Dengan konsisten. Karena pasti akan banyak orang yang dengan senang hati mengatakan padamu betapa bodohnya kamu dengan pilihan tindakan itu. Akan banyak orang yang memprediksikan kamu akan gagal, meskipun mereka sendiri belum pernah mencoba sedikitpun. Resikonya memang tidak ringan, karena imbalannya juga tidak kecil.
Saya punya koleksi beberapa ide nabrak pagar. Misalnya, pernah memikirkan untuk menikah di kuburan? Pernah merenungkan sebuah ide di atas pohon kelapa? Menulis sambil menutup mata? Berjalan normal sambil tersenyum dalam hujan lebat melewati orang yang sedang berlarian atau berteduh? Makan nasi dengan lauk buah-buahan? Minum kopi sambil – sorry – buang air besar?
Saya hanya ingin membuka ruang seluas-luasnya. Lupakan dulu tentang sopan santun dan etika. Atau aturan baku lainnya. Tabrak saja dulu. Bebaskan semua belenggu yang telah mencengkeram otak kita sejak kecil. Rasakan imajinasi yang melayang bebas seperti burung terbang mengukur tingginya langit. Rasakan segarnya udara yang memenuhi ruang tak terbatas. Rasakan kaki-kaki yang berlari melesat ke masa depan dengan gerakan yang luar biasa ringannya.
Apakah kebebasan yang Anda rasakan dalam pikiran itu membuat Anda menjadi senang, bahagia, inspired atau justru malah takut?
Masih Ragu? Good!
Meninggalkan kebiasaan lama memang tidak mudah. Selalu ada keraguan ketika memutuskan untuk berubah: keluar dari zona kenyamanan yang biasa kita nikmati setiap hari dan menuju wilayah baru yang asing dan tak terpetakan. Ini adalah sebuah gejala yang wajar, sewajar adik bayi yang demam ketika mendapat suntikan vaksin. Jika keraguan atau ketakutan mulai menyerang, maka tersenyumlah. Keraguan akan mematangkan pertimbangan kita sebagai salah satu mekanisme internal control. Setelah itu, tutuplah semua pintu yang bisa membuatmu menoleh ke belakang. Bakar semua perahu penyelamatmu seperti Jabal Tariq. Sehingga satu-satunya jalan yang tersisa buatmu hanyalah ke depan. Dan teruslah melangkah.
Se-simple itu. Meskipun tentu saja tidak semudah ketika menuliskannya. Landskap masa depan ditentukan oleh sekelompok minoritas yang ide-ide besarnya semula dianggap asing, tidak wajar bahkan gila. Mereka yang terus maju ke depan karena keyakinan yang kuat, ketika orang-orang di sekitarnya tertawa mencemoohkan. Orang-orang langka seperti ini akan menjadi gelombang yang tidak terhentikan. Yang tidak saja akan menghempaskan milyaran buih ke pantai, tapi juga meruntuhkan karang-karang yang terjal.
Seorang bijak pernah berkata, resiko terbesar dalam hidup adalah tidak pernah berani mengambil resiko. Dan keteguhan atas sebuah visi di masa depan – kata Goethe – menyimpan kekuatan, kejeniusan dan keajaibannya sendiri. Keberuntungan akan datang bahkan tanpa pernah disangka-sangka. Sejarah banyak mencatat kebenaran kata-kata sederhana ini, jika kita mau belajar darinya.
Dan kembali ke topik awal yang judulnya sok barat itu, saya tidak menawarkan banyak hal lewat tulisan ini. Saya percaya bahwa ide-ide lokal sangat punya potensi kekuatan, justru karena kelokalannya. Ide kreatif yang berangkat dari lokalitas itu jumlahnya tak terbatas, dan jika diolah maksimal akan menjelma jadi masterpiece berkelas internasional.
Jakarta, 25 Oktober 2007
M. Arief Budiman, S.Sn.
Managing Director PT. Petakumpet Yogyakarta
Sekretaris PPPI Pengda DIY
Email: arief_009@yahoo.com, contact@petakumpetworld.com
www.mybothsides.blogspot.com, www.petakumpetworld.com
BATIK MILIK SIAPA...?
Batik, Sebenarnya Milik Siapa?SELEMBAR kain batik mampu bicara banyak. Ia mewakili sebuah perjalanan masa,membicarakan perpaduan berbagai budaya, juga perjalanan dari sebuahkekuasaan.Selembar kain batik juga bisa memunculkan busana trendi. Sayangnya, citrayang tertanam hingga saat ini masih berkonotasi negatif. Batik dianggapsebagai kain kuno yang hanya pantas digunakan orang-orang tua. Bahkan adayang mengonotasikan batik dengan daster atau dalam pandangan lebih baik,kemeja lelaki berumur.Menghapus citra yang sudah telanjur tertanam ternyata tidak mudah. Meskiberbagai pameran dan peragaan busana selalu bertujuan mengenalkan batik padakalangan muda, kenyataannya yang datang berkunjung atau menonton selalugenerasi senior dan ekspatriat. Anak muda yang hadir bisa dihitung denganjari.Kenyataan seperti itu kembali terlihat dalam Pameran Kain Batik KoleksiKartini Muljadi yang diselenggarakan Galeri Hadiprana, Senin pekan lalu.Hadir dalam acara yang akan berlangsung sebulan itu antara lain pengamat danpecinta batik Asmoro Damais, Baron, Edi Sedyawati, wartawan senior RosihanAnwar, Mien Uno, Dian M Soedardjo, serta tamu-tamu asing yang meminatikoleksi kain langka Indonesia.Generasi mudanya bisa dihitung dengan jari. Di antaranya dari kalangandesainer muda Didi Budihardjo dan Sebastian Gunawan. Ada juga beberapaperempuan muda dengan usia antara 20-30 tahunan. Mereka datang dan mencobamenjadikan batik sebagai sesuatu yang trendi.Salah satu di antaranya mengenakan kaus putih pendek dengan celana panjangpipa jins biru warna pudar yang tengah tren. Ia menyampirkan kain batikwarna cokelat kuno di bahunya. Wanita lainnya mengenakan sackdress ungu tua.Ia memitakan kain batik di atas tas Louis Vuitton. Begitu cantik dan padu.Dua perempuan ini membuktikan bahwa batik pun pantas digunakan anak mudadengan gaya trendi terkini. Sayang, jumlah yang mau peduli masih sangatsedikit.Bandingkan dengan pagelaran busana merek terkemuka seperti Mango. Antusiasgenerasi muda sungguh luar biasa. Mereka datang dan berani membeli mahalagar tidak dianggap ketinggalan zaman.Seorang bintang sinetron dan iklan memberi jawaban jujur. "Sebenarnyapromosi tentang batik sudah cukup. Masalahnya, kadang kalau kita pakai kainbatik suka dikatain kuno sama teman-teman. kesannya gak gaul gitu. Jadi gueenggak begitu minat dengan kain batik. Selain itu, gue pikir, kain batikmemiliki citra elegan. Sepertinya kurang cocok dibuat dengan gaya yang lebihfunky," tutur Dee Dee yang kini tengah sibuk syuting sinetron dan masihmenjadi bintang iklan produk Marina.Kurang kemasanTak kenal maka tak sayang. Begitu kata pengamat mode, pengajar dan pecintakain Sonny Muchlison saat mengomentari rendahnya minat generasi mudaterhadap kain tradisional. Dalam pandangannya, banyak hal memengaruhi sikaptersebut. Di antaranya kurang pengenalan sejak dini dan buruknya kemasanpameran serta peragaan busana yang diilhami kain tradisional.Dari waktu ke waktu jelasnya, pengenalan budaya di sekolah kian rendah.Penekanannya lebih pada menghafal. Kurikulum sekolah tidak memberi porsicukup untuk seni dan budaya. "Jadi, wajar saja bila anak sekarang merasaasing dengan kain tradisional Indonesia," tuturnya.Soal promosi kain batik, Sonny melihat sudah cukup gencar. Sayangnya, baruberdengung di kalangan tertentu alias belum menyentuh generasi muda.Persoalan lain menyangkut kurang menariknya kemasan yang disodorkan dalampameran maupun peragaan busana. Sering kali beberapa pameran di-displaysembarangan sehingga tidak menarik minat anak muda. Publikasi yang ditempuhjuga kurang mengena.Kondisi itu menurut Sonny semakin diperparah dengan kecenderungan mediacetak dan televisi yang hanya mengejar sensasional dan rating. Akibatnya,kisi-kisi pendidikan termasuk kesenian tradisional kurang diperkenalkankepada masyarakat. Kalaupun ada yang mengupas, biasanya sekadar formalitasatau justru ditampilkan secara berat dan kuno sehingga tidak menarik minatkaum muda.Sebagai seorang pengajar di Institut Kesenian Jakarta, dia juga prihatinsaat mengajar tekstil tradisional. Sebagian besar muridnya kurang begitutertarik apalagi mengenal. "Yang sekarang getol mempelajari keseniantradisional dan memburu kain-kain kuno justru orang asing. Siapasesungguhnya pemilik kebudayaan tradisional Indonesia ini?" katanyaprihatin.Keprihatinannya kian bertambah karena saat ini batik justru banyakdiaplikasi merek-merek luar negeri. Misalnya saja Project Shop Blood. Untukkawasan Asia, merek ini berani mengaplikasikan batik dengan nuansa urban danfunky. Pada 1997, Versace pernah menggunakan batik jamprang untukkoleksi-koleksinya. Antonio Berardiu dan Pierre Cardin juga menjabarkanbatik dalam gaya kardigan serta celana sleek yang unik. Terakhir Malaysiamalah berani mengklaim batik sebagai budaya khas mereka.Di Indonesia, lanjut Sonny, sebenarnya sudah ada beberapa desainer yangkhusus mengolah batik. Sayang kemasannya masih terlalu berat sehingga kurangmenyentuh hati generasi muda. "Meski demikian, upaya beberapa desainer ituperlu diapresiasi. Hasil karya mereka itu kini lebih diminati orang-orangasing. Obin misalnya, 99% pelanggannya berasal dari Eropa, Jepang, danAmerika."Begitulah gambaran kondisi batik di Indonesia. Perlu strategi dan kerjalebih keras lagi untuk memperkenalkan pada generasi muda. Jangan sampai kainkhas ini hilang ditelan zaman atau justru dipatenkan bangsa lain. (sumberbatikinfo.com)-------------------------------------------------------AYO DESAINER GRAFIS INDONESIA, Mari ambil bagian dalam mengembangkan BATIKINDONESIA! Tuangkan ide desain grafis modern dalam BATIK, agar batik dapatditerima generasi muda! Jangan mau kalah dengan orang-orang luar negri yangtelah mengeksploitasi keindahan batik.Ikuti workshop " Experience Gratik Design" -Workshop Batik untuk DesainerGrafis-6 Desember 2007, Galeri Hadiprana KemangJam 9.00-15.00investasi: Rp.250.000,- (termasuk makan siang, makalah, dan sertifikat) Tempat terbatas.Info lebih lanjut hubungi: oline (08129930680)atau (08151 9500 151)acara ini didukung oleh: Forum Desain Grafis Indonesia dan Majalah Concept
Langganan:
Postingan (Atom)